Kenapa sih banyak orang-orang miskin yang punya banyak anak?
Pertanyaan seperti itu selalu melintas di benakku.
Di daerah sekitar rumahku yang kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai tukang becak justru memiliki anak yang banyak sekali jumlahnya.
Apakah orang-orang itu tidak pernah berpikir sebelum menambah anak?
Jangankan punya anak tujuh, delapan atau sembilan, punya anak satu aja belum tentu tercukupi semua kebutuhannya. Sehingga jumlah anak yang banyak itu justru membuat anak-anak mereka terbengkalai, tidak terurus, tidak bisa sekolah, tidak bisa minum susu atau makanan yang bergizi, bahkan tidak bisa bermain sebagaimana layaknya anak-anak seusianya karena mereka harus bekerja membantu orang tuanya. Dari pekerjaan kasar, pesuruh, pembantu, pengemis, pengamen dan bahkan ada anaknya yang masih batita disewakan untuk mengemis.
Fenomena inilah yang kadang membuatku merasa miris. Fenomena ini justru menyebabkan semakin bertambahnya orang-orang yang melarat di
Dan kebalikannya. Justru orang-orang kaya yang berkecukupan hanya memiliki anak satu, dua, tiga bahkan tidak punya anak sama sekali. Padahal kalau saja orang-orang kaya itu memiliki banyak anak sampai sepuluh sekalipun pasti anak-anak mereka tidak akan terlantar. Anak-anaknya akan berpendidikan tinggi, kebutuhan sandan, pangan dan papannya akan tercukupi.
“Ma…! Rifka ngambil mainan kakak!” teriak si sulung mengagetkan lamunanku. Kakak beradik itu sedang ‘tarik-tarikan’ mainan dengan saling ngotot tak mau kalah.
“Ngalah sama adik ya, kak,” aku mencoba melerai.
“Gak mau!” Raka menarik mainan robotnya dengan kasar sekali hentakkan menyebabkan genggaman tangan adiknya pada robot itu terlepas.
“Oaaa…! Oaaa…!”
Jadilah rumah kontrakanku yang sempit ini ramai oleh tangisan si bungsu.
Aku langsung menggendong si bungsu dan mencoba mengalihkan perhatiannya kepada cicak yang ada di dinding rumah kontrakkanku yang sudah terkikis di sana-sini. Alhamdulillah, berhasil. Si bungsu menghentikan tangisnya dan asyik mengamati cicak.
Tak lama suara telepon berdering. Dengan rasa penasaran aku langsung menyambar ponselku.
“Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalam…! Mbak Rika?”
“Ya, betul. Mbak Wiwin, ya?”
“Ya. Jangan lupa nanti siang ba’da dzuhur liqa di rumahku.”
“Iya, Mbak. Insya Allah saya datang.”
“Makasih. Udah, ya. Wassalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalam…!”
"
Seperti biasa liqa di rumah Mbak Wiwin selalu dimeriahkan oleh teriakan anak-anak yang kami bawa masing-masing. Maklum, kami semua ibu rumah tangga yang memiliki anak. Maka setiap liqa, kami pasti membawa anak-anak kami.
Setelah liqa dibuka oleh Mbak Wiwin, kami mengawalinya dengan tadarus Al-Qur’an secara bergiliran. Setelah itu kami akan menyetorkan hapalan kami ke Mbak Wiwin selaku murabbi. Setelah itu baru materi. Sejak dua minggu kemarin kamilah yang memberikan materi secara bergiliran untuk melatih kita berdakwah. Seperti kata di TV ‘sampaikanlah walau satu ayat’.
Kini giliran Mbak Santi yang memberikan materi. Mbak Wiwin, aku, Mbak Sammah, Mbak Nunung, Mbak Sari, Mbak Kokom dan Mbak Eli mendengarkan dengan seksama. Dia menyampaikan tentang pentingnya kita sebagai orang Muslim agar bisa meningkatkan kehidupan ekonomi kita khususnya sebagai seorang enterpreneurship sejati seperti Rasulullah. Sehingga sebagai seorang Muslim alangkah baiknya jika kita selain kaya hati juga kaya secara materi agar kita bisa membantu diri sendiri, keluarga dan orang lain. Sehingga materi itu kita jadikan ‘kendaraan’ kita agar kita bisa lebih istiqamah dan kaffah dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna ini. Sehingga kita bisa sukses di dunia maupun di akherat kelak.
Aku menyimak penuturan Mbak Santi dengan seksama. Apa yang dikatakannya bukan hanya sembarang omongan. Semua itu sudah ia lakukan sampai sekarang. Aku sendiri salut dengan perjuangannya untuk mandiri dalam hidup.
Ia hidup dari keluarga miskin. Orang tuanya kewalahan untuk membiayai pendidikan dan merawat anak-anaknya. Terutama setelah kelahiran anak bungsunya yang ternyata kembar. Ya, lagi-lagi orang-orang miskin justru memiliki anak banyak.
Dan entah kenapa orang tuanya menitipkan Mbak Santi kepada kakaknya, Bu Sumi, yang tidak mempunyai anak yang tinggal di Jakarta agar Mbak Santi bisa tinggal bersama Bu Sumi sebagaimana layaknya seorang anak dan melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Padahal orang tuanya tahu bahwa Bu Sumi juga orang miskin, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Toh Bu Sumi tidak punya tanggungan apapun. Maka sejak kecil Mbak Santi sudah terbiasa menganggap Bu Sumi sebagai ibunya.
Karena Bu Sumi miskin, maka tak heran jika Mbak Santi sering menunggak pembayaran SPPnya. Bayangkan, apa jadinya jika Bu Sumi memiliki anak banyak.
Kehidupan menjadi orang miskin sudah terbiasa bagi Mbak Santi. Namun ia sudah bertekad bahwa ia tidak ingin selamanya seperti ini. Ia tidak ingin selalu menyusahkan orang lain. Ia ingin bisa membantu orang lain. Maka sedari muda ia sudah terbiasa berdagang ini-itu untuk bisa membayar SPPnya. Hingga kini ketika ia sudah menikah ia berbisnis dengan sebuah bisnis yang amat menguntungkan, asalkan kita fokus, bekerja keras dan pantang menyerah namun dengan modal yang tidak banyak.
Awalnya, suaminya tidak menyukai bisnis yang digeluti oleh istrinya, namun lama kelamaan setelah melihat kegigihan sang istri, suaminya pun mencoba mengenali dan tertarik dengan bisnis yang istrinya jalankan. Dan Alhamdulillah, sekarang suaminyalah yang menjalankan bisnis yang dirintis istrinya, karena sekarang Mbak Santi sudah punya momongan yang mengharuskannya untuk selalu di rumah. Dan Alhamdulillah, suaminya bisa menjalankan bisnis mereka sehingga aku yakin suatu saat nanti bisnis yang mereka rintis ini akan berkembang pesat.
Kalau sampai Mbak Santi menjadi orang yang kaya raya, semoga ia memiliki banyak anak. Tapi kalau tidak, dua atau tiga saja sudah lebih dari cukup. Tapi aku sangat yakin mereka pasti akan sangat sukses. Sekarang aku dan suamiku pun sudah bergabung bersama mereka. Merintis karir lewat bisnis yang menguntungkan.
“Apa ada yang mau diceritakan? Barangkali ada uneg-uneg di hati yang ingin diutarakan? Silahkan!” Mbak Wiwin melanjutkan liqa setelah Mbak Santi selesai memberikan materi.
Aku mengangkat tanganku.
“Silahkan Mbak Rika.”
“Ehm… begini,” aku ragu untuk menanyakannya.
“Ya, Mbak? Apa yang mau disampaikan?”
“Mungkin pertanyaan saya ini agak sedikit bodoh.”
“Nggak apa-apa. Silahkan!”
“Bukankah Allah itu Maha Adil, Mbak?”
“Ya. Tentu saja. Kita harus meyakini itu.”
“Ya, Mbak. Saya pun meyakininya. Saya meyakini sepenuh hati saya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Fenomena yang terjadi di daerah sekitar rumahku justru menunjukkan yang sebaliknya?”
“Bisa dijelaskan!” Mbak Wiwin mengerutkan keningnya.
Dengan setengah malu-malu aku mengeluarkan pemikiran yang selama ini memenuhi kepalaku.
Dan ternyata reaksi Mbak Wiwin jauh diluar dugaanku. Kupikir ia pun akan berpikir keras setelah mendengarnya, eh tapi ternyata ia malah tersenyum dengan wajahnya yang bijak.
“Tidakkah Mbak Rika menyadari bahwa fenomena ini justru membuat kita berpikir?”
“Ya.”
“Coba cari jawabannya dengan lebih tenang dengan kepala dingin. Dan kita harus berprasangka baik kepada Allah dan kita harus meyakini bahwa Allah Maha Adil dan setiap fenomena yang ada di sekitar kita pasti bisa kita ambil pelajaran. Alangkah lebih baiknya jika Mbak Rika mencari jawabannya ketika Mbak Rika habis bertahajud ketika Mbak Rika sedang berduaan dengan Sang Pencipta dengan hati lapang dan terbuka. Saya yakin Mbak pasti akan menemukan jawabannya.”
Jawaban Mbak Wiwin tersebut justru membuatku lebih penasaran. Kenapa juga nggak langsung dijelaskan saja oleh Mbak Wiwin sendiri. Ah, entahlah. Yang jelas selama ini saya selalu mentok untuk mencari jawaban dari fenomena tersebut.
Yah, tapi tidak ada salahnya kalau mencoba apa yang dianjurkan Mbak Wiwin, walaupun terus terang aku tidak begitu yakin. Lagi pula aku penasaran juga untuk mengetahui jawabannya. Sebaiknya nanti malam kucoba saja.
"
Suara jangkrik bersahut-sahutan memenuhi gendang telingaku. Malam ini akan kucoba untuk melapangkan pikiran dan hatiku. Aku harus berprasangka baik kepada-Nya dan menghilangkan pikiran-pikiran negatifku.
Selesai bertahajud, aku menengadahkan kepalaku. Kutatap langit-langit rumah kontrakkanku yang tidak lagi berwarna putih. Kucoba mencari jawabannya. Kenapa? Kenapa? Untuk apa Allah memunculkan fenomena ini? Apa maksud-Nya? Apa hikmah yang bisa aku ambil dari fenomena ini? Apa? Apa? Ya, Allah. Ya, Rabbi. Berilah aku petunjuk-Mu dengan segala kemurahan hati-Mu.
Namun jawabannya belum juga kudapatkan. Hingga tiga malam berturut-turut aku mencoba mencari jawabannya.
Ini adalah malam ke empat. Setelah shalat lail dan berdo’a seperti biasa aku tidak langsung tidur. Aku berbaring di atas sajadah sambil masih mengenakan mukena. Aku terus menatapi langit-langit. Kujernihkan pikiranku. Kumencari jawaban-Nya. Sedikit demi sedikit aku menemukan pencerahan. Dan… Ya! Aku tahu! Inilah jawabannya!
Dengan rasa hati yang sangat senang kuucapkan hamdallah berkali-kali. Tak kusangka, Allah memberikan petunjuk-Nya dengan cara yang tak disangka-sangka. Tak sabar kutunggu besok untuk bertemu dengan Mbak Wiwin. Akan kukatakan jawabannya. Jawaban dari fenomena yang selama ini memenuhi kepalaku.
Kini kepalaku terasa lebih ringan. Tak ada lagi beban yang kupikirkan dari fenomena itu. Justru setelah kutemukan jawabannya, kini aku sedang berpikir ke arah lain. Ke arah yang lebih baik. Thank’s God.
"
“Mbak! Nanti agak siangan boleh ‘
“Ya. Tentu saja. Ditunggu, ya.”
“Ganggu, ga?”
“Nggak. Tenang aja.”
Setelah suamiku berangkat kerja dan pekerjaan rumahku selesai, aku langsung membawa anak-anakku ke rumah Mbak Wiwin.
Mbak Wiwin tersenyum menyilahkanku masuk, “Wajahmu terlihat lebih berseri dibanding waktu liqa.”
Aku tersenyum.
“Apakah jawabannya sudah ketemu?”
Aku mengangguk pasti, “Tapi kalau ternyata jawaban yang saya temukan ternyata lain dengan jawaban Mbak, gimana?”
“Ehm… Mbak rasa nggak. Coba jelaskan apa jawaban yang Mbak Rika temukan!”
“Ya. Sebenarnya fenomena ini justru membuat kita harus berpikir. Apa yang ada dibaliknya? Dan ternyata Allah sedang menguji orang-orang kaya. Apakah orang-orang kaya itu mau meringankan beban si miskin, dengan menjadi orang tua asuh dari sebagian anak-anak orang miskin yang ada di sekitarnya. Jadi, jika saja mereka mau berpikir, sebenarnya Allah sedang membuka peluang kepada orang-orang kaya untuk masuk ke surga-Nya dengan jalan ini. Tapi sayangnya justru banyak orang-orang kaya yang tidak mau berpikir. Maka jadilah negara kita yang seharusnya bisa lebih sejahtera ini justru semakin melarat.”
Mbak Wiwin tersenyum mengangguk membuatku sangat bahagia seperti anak SD yang baru saja menyelesaikan soal matematika yang ngejelimet dengan baik dan benar.
Ya Allah. Terima kasih Engkau telah memberikan petunjuk kepadaku. Kini yang ada dipikiranku sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa menjadi orang kaya agar aku bisa menjadi orang tua asuh bagi anak-anak miskin di daerah sekitarku dan bisa menyekolahkan mereka semua agar tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah hanya gara-gara biaya. Ya Allah kabulkanlah do’aku dan terus bimbinglah aku ke jalan yang lurus. Amin.