INSPIRATIF
Selasa, 19 Oktober 2010
Mysteri 11 September di Ms Word
2. ketik dalam huruf besar, Q33 NY
(Q33 NY ini adalah nomer pesawat yang menabrak WTC)
3. ganti ukuran font sebesar 48.
4. blok "Q33 NY" lalu ubah font menjadi "WINGDINGS"
5. Apa yang sekarang terlihat?
Masya Allah...
[x] Ternyata gambar ini sudah begitu lama ada tanpa siapapun menyadarinya...
[x] Terlihat gambar sebuah Kapal Terbang menabrak WTC (2 menara kembar) lalu ada lambang tengkorak (kematian) dan lambang yahudi...
Peristiwa 11 September 2001 tersebut adalah skenario Yahudi yang mengkambinghitamkan umat Islam dengan tujuan agar nama Islam menjadi jelek di mata dunia dan orang2 akan membenci Islam. Memang setelah peristiwa itu banyak sekali aksi2 kekerasan terhadap umat Islam dan perlakuan diskriminasi lainnya (terutama di negara2 yang umat Islamnya adalah minoritas).
Namun kejadian tersebut justru membuat banyak non-Muslim jadi penasaran dengan ajaran Islam. Apa benar agama Islam itu adalah agama teroris ?
Dan hasilnya, justru ratusan ribu orang berbondong2 mempelajari Islam dan kemudian menjadi Muslim.
Koran The New York Times menulis (22/10/2001) bahwa ada sekitar 25 ribu orang yang masuk Islam setelah kejadian itu. Jumlah yang cukup besar, karena pada saat normal hanya seperempat dari jumlah itu.
Diketemukan kejanggalan bahwa semua pekerja Yahudi yang bekerja di WTC tidak ada seorangpun yg masuk pada tanggal 11 September 2010.
Ya iya lah... Soalnya mereka memang sudah tahu dan itu memang rencana mereka.
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.
Amin...
Rabu, 03 Februari 2010
FENOMENA SI KAYA DAN SI MISKIN
Kenapa sih banyak orang-orang miskin yang punya banyak anak?
Pertanyaan seperti itu selalu melintas di benakku.
Di daerah sekitar rumahku yang kebanyakan dari mereka hanya bekerja sebagai tukang becak justru memiliki anak yang banyak sekali jumlahnya.
Apakah orang-orang itu tidak pernah berpikir sebelum menambah anak?
Jangankan punya anak tujuh, delapan atau sembilan, punya anak satu aja belum tentu tercukupi semua kebutuhannya. Sehingga jumlah anak yang banyak itu justru membuat anak-anak mereka terbengkalai, tidak terurus, tidak bisa sekolah, tidak bisa minum susu atau makanan yang bergizi, bahkan tidak bisa bermain sebagaimana layaknya anak-anak seusianya karena mereka harus bekerja membantu orang tuanya. Dari pekerjaan kasar, pesuruh, pembantu, pengemis, pengamen dan bahkan ada anaknya yang masih batita disewakan untuk mengemis.
Fenomena inilah yang kadang membuatku merasa miris. Fenomena ini justru menyebabkan semakin bertambahnya orang-orang yang melarat di
Dan kebalikannya. Justru orang-orang kaya yang berkecukupan hanya memiliki anak satu, dua, tiga bahkan tidak punya anak sama sekali. Padahal kalau saja orang-orang kaya itu memiliki banyak anak sampai sepuluh sekalipun pasti anak-anak mereka tidak akan terlantar. Anak-anaknya akan berpendidikan tinggi, kebutuhan sandan, pangan dan papannya akan tercukupi.
“Ma…! Rifka ngambil mainan kakak!” teriak si sulung mengagetkan lamunanku. Kakak beradik itu sedang ‘tarik-tarikan’ mainan dengan saling ngotot tak mau kalah.
“Ngalah sama adik ya, kak,” aku mencoba melerai.
“Gak mau!” Raka menarik mainan robotnya dengan kasar sekali hentakkan menyebabkan genggaman tangan adiknya pada robot itu terlepas.
“Oaaa…! Oaaa…!”
Jadilah rumah kontrakanku yang sempit ini ramai oleh tangisan si bungsu.
Aku langsung menggendong si bungsu dan mencoba mengalihkan perhatiannya kepada cicak yang ada di dinding rumah kontrakkanku yang sudah terkikis di sana-sini. Alhamdulillah, berhasil. Si bungsu menghentikan tangisnya dan asyik mengamati cicak.
Tak lama suara telepon berdering. Dengan rasa penasaran aku langsung menyambar ponselku.
“Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalam…! Mbak Rika?”
“Ya, betul. Mbak Wiwin, ya?”
“Ya. Jangan lupa nanti siang ba’da dzuhur liqa di rumahku.”
“Iya, Mbak. Insya Allah saya datang.”
“Makasih. Udah, ya. Wassalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalam…!”
"
Seperti biasa liqa di rumah Mbak Wiwin selalu dimeriahkan oleh teriakan anak-anak yang kami bawa masing-masing. Maklum, kami semua ibu rumah tangga yang memiliki anak. Maka setiap liqa, kami pasti membawa anak-anak kami.
Setelah liqa dibuka oleh Mbak Wiwin, kami mengawalinya dengan tadarus Al-Qur’an secara bergiliran. Setelah itu kami akan menyetorkan hapalan kami ke Mbak Wiwin selaku murabbi. Setelah itu baru materi. Sejak dua minggu kemarin kamilah yang memberikan materi secara bergiliran untuk melatih kita berdakwah. Seperti kata di TV ‘sampaikanlah walau satu ayat’.
Kini giliran Mbak Santi yang memberikan materi. Mbak Wiwin, aku, Mbak Sammah, Mbak Nunung, Mbak Sari, Mbak Kokom dan Mbak Eli mendengarkan dengan seksama. Dia menyampaikan tentang pentingnya kita sebagai orang Muslim agar bisa meningkatkan kehidupan ekonomi kita khususnya sebagai seorang enterpreneurship sejati seperti Rasulullah. Sehingga sebagai seorang Muslim alangkah baiknya jika kita selain kaya hati juga kaya secara materi agar kita bisa membantu diri sendiri, keluarga dan orang lain. Sehingga materi itu kita jadikan ‘kendaraan’ kita agar kita bisa lebih istiqamah dan kaffah dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna ini. Sehingga kita bisa sukses di dunia maupun di akherat kelak.
Aku menyimak penuturan Mbak Santi dengan seksama. Apa yang dikatakannya bukan hanya sembarang omongan. Semua itu sudah ia lakukan sampai sekarang. Aku sendiri salut dengan perjuangannya untuk mandiri dalam hidup.
Ia hidup dari keluarga miskin. Orang tuanya kewalahan untuk membiayai pendidikan dan merawat anak-anaknya. Terutama setelah kelahiran anak bungsunya yang ternyata kembar. Ya, lagi-lagi orang-orang miskin justru memiliki anak banyak.
Dan entah kenapa orang tuanya menitipkan Mbak Santi kepada kakaknya, Bu Sumi, yang tidak mempunyai anak yang tinggal di Jakarta agar Mbak Santi bisa tinggal bersama Bu Sumi sebagaimana layaknya seorang anak dan melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Padahal orang tuanya tahu bahwa Bu Sumi juga orang miskin, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Toh Bu Sumi tidak punya tanggungan apapun. Maka sejak kecil Mbak Santi sudah terbiasa menganggap Bu Sumi sebagai ibunya.
Karena Bu Sumi miskin, maka tak heran jika Mbak Santi sering menunggak pembayaran SPPnya. Bayangkan, apa jadinya jika Bu Sumi memiliki anak banyak.
Kehidupan menjadi orang miskin sudah terbiasa bagi Mbak Santi. Namun ia sudah bertekad bahwa ia tidak ingin selamanya seperti ini. Ia tidak ingin selalu menyusahkan orang lain. Ia ingin bisa membantu orang lain. Maka sedari muda ia sudah terbiasa berdagang ini-itu untuk bisa membayar SPPnya. Hingga kini ketika ia sudah menikah ia berbisnis dengan sebuah bisnis yang amat menguntungkan, asalkan kita fokus, bekerja keras dan pantang menyerah namun dengan modal yang tidak banyak.
Awalnya, suaminya tidak menyukai bisnis yang digeluti oleh istrinya, namun lama kelamaan setelah melihat kegigihan sang istri, suaminya pun mencoba mengenali dan tertarik dengan bisnis yang istrinya jalankan. Dan Alhamdulillah, sekarang suaminyalah yang menjalankan bisnis yang dirintis istrinya, karena sekarang Mbak Santi sudah punya momongan yang mengharuskannya untuk selalu di rumah. Dan Alhamdulillah, suaminya bisa menjalankan bisnis mereka sehingga aku yakin suatu saat nanti bisnis yang mereka rintis ini akan berkembang pesat.
Kalau sampai Mbak Santi menjadi orang yang kaya raya, semoga ia memiliki banyak anak. Tapi kalau tidak, dua atau tiga saja sudah lebih dari cukup. Tapi aku sangat yakin mereka pasti akan sangat sukses. Sekarang aku dan suamiku pun sudah bergabung bersama mereka. Merintis karir lewat bisnis yang menguntungkan.
“Apa ada yang mau diceritakan? Barangkali ada uneg-uneg di hati yang ingin diutarakan? Silahkan!” Mbak Wiwin melanjutkan liqa setelah Mbak Santi selesai memberikan materi.
Aku mengangkat tanganku.
“Silahkan Mbak Rika.”
“Ehm… begini,” aku ragu untuk menanyakannya.
“Ya, Mbak? Apa yang mau disampaikan?”
“Mungkin pertanyaan saya ini agak sedikit bodoh.”
“Nggak apa-apa. Silahkan!”
“Bukankah Allah itu Maha Adil, Mbak?”
“Ya. Tentu saja. Kita harus meyakini itu.”
“Ya, Mbak. Saya pun meyakininya. Saya meyakini sepenuh hati saya. Tapi…”
“Tapi apa?”
“Fenomena yang terjadi di daerah sekitar rumahku justru menunjukkan yang sebaliknya?”
“Bisa dijelaskan!” Mbak Wiwin mengerutkan keningnya.
Dengan setengah malu-malu aku mengeluarkan pemikiran yang selama ini memenuhi kepalaku.
Dan ternyata reaksi Mbak Wiwin jauh diluar dugaanku. Kupikir ia pun akan berpikir keras setelah mendengarnya, eh tapi ternyata ia malah tersenyum dengan wajahnya yang bijak.
“Tidakkah Mbak Rika menyadari bahwa fenomena ini justru membuat kita berpikir?”
“Ya.”
“Coba cari jawabannya dengan lebih tenang dengan kepala dingin. Dan kita harus berprasangka baik kepada Allah dan kita harus meyakini bahwa Allah Maha Adil dan setiap fenomena yang ada di sekitar kita pasti bisa kita ambil pelajaran. Alangkah lebih baiknya jika Mbak Rika mencari jawabannya ketika Mbak Rika habis bertahajud ketika Mbak Rika sedang berduaan dengan Sang Pencipta dengan hati lapang dan terbuka. Saya yakin Mbak pasti akan menemukan jawabannya.”
Jawaban Mbak Wiwin tersebut justru membuatku lebih penasaran. Kenapa juga nggak langsung dijelaskan saja oleh Mbak Wiwin sendiri. Ah, entahlah. Yang jelas selama ini saya selalu mentok untuk mencari jawaban dari fenomena tersebut.
Yah, tapi tidak ada salahnya kalau mencoba apa yang dianjurkan Mbak Wiwin, walaupun terus terang aku tidak begitu yakin. Lagi pula aku penasaran juga untuk mengetahui jawabannya. Sebaiknya nanti malam kucoba saja.
"
Suara jangkrik bersahut-sahutan memenuhi gendang telingaku. Malam ini akan kucoba untuk melapangkan pikiran dan hatiku. Aku harus berprasangka baik kepada-Nya dan menghilangkan pikiran-pikiran negatifku.
Selesai bertahajud, aku menengadahkan kepalaku. Kutatap langit-langit rumah kontrakkanku yang tidak lagi berwarna putih. Kucoba mencari jawabannya. Kenapa? Kenapa? Untuk apa Allah memunculkan fenomena ini? Apa maksud-Nya? Apa hikmah yang bisa aku ambil dari fenomena ini? Apa? Apa? Ya, Allah. Ya, Rabbi. Berilah aku petunjuk-Mu dengan segala kemurahan hati-Mu.
Namun jawabannya belum juga kudapatkan. Hingga tiga malam berturut-turut aku mencoba mencari jawabannya.
Ini adalah malam ke empat. Setelah shalat lail dan berdo’a seperti biasa aku tidak langsung tidur. Aku berbaring di atas sajadah sambil masih mengenakan mukena. Aku terus menatapi langit-langit. Kujernihkan pikiranku. Kumencari jawaban-Nya. Sedikit demi sedikit aku menemukan pencerahan. Dan… Ya! Aku tahu! Inilah jawabannya!
Dengan rasa hati yang sangat senang kuucapkan hamdallah berkali-kali. Tak kusangka, Allah memberikan petunjuk-Nya dengan cara yang tak disangka-sangka. Tak sabar kutunggu besok untuk bertemu dengan Mbak Wiwin. Akan kukatakan jawabannya. Jawaban dari fenomena yang selama ini memenuhi kepalaku.
Kini kepalaku terasa lebih ringan. Tak ada lagi beban yang kupikirkan dari fenomena itu. Justru setelah kutemukan jawabannya, kini aku sedang berpikir ke arah lain. Ke arah yang lebih baik. Thank’s God.
"
“Mbak! Nanti agak siangan boleh ‘
“Ya. Tentu saja. Ditunggu, ya.”
“Ganggu, ga?”
“Nggak. Tenang aja.”
Setelah suamiku berangkat kerja dan pekerjaan rumahku selesai, aku langsung membawa anak-anakku ke rumah Mbak Wiwin.
Mbak Wiwin tersenyum menyilahkanku masuk, “Wajahmu terlihat lebih berseri dibanding waktu liqa.”
Aku tersenyum.
“Apakah jawabannya sudah ketemu?”
Aku mengangguk pasti, “Tapi kalau ternyata jawaban yang saya temukan ternyata lain dengan jawaban Mbak, gimana?”
“Ehm… Mbak rasa nggak. Coba jelaskan apa jawaban yang Mbak Rika temukan!”
“Ya. Sebenarnya fenomena ini justru membuat kita harus berpikir. Apa yang ada dibaliknya? Dan ternyata Allah sedang menguji orang-orang kaya. Apakah orang-orang kaya itu mau meringankan beban si miskin, dengan menjadi orang tua asuh dari sebagian anak-anak orang miskin yang ada di sekitarnya. Jadi, jika saja mereka mau berpikir, sebenarnya Allah sedang membuka peluang kepada orang-orang kaya untuk masuk ke surga-Nya dengan jalan ini. Tapi sayangnya justru banyak orang-orang kaya yang tidak mau berpikir. Maka jadilah negara kita yang seharusnya bisa lebih sejahtera ini justru semakin melarat.”
Mbak Wiwin tersenyum mengangguk membuatku sangat bahagia seperti anak SD yang baru saja menyelesaikan soal matematika yang ngejelimet dengan baik dan benar.
Ya Allah. Terima kasih Engkau telah memberikan petunjuk kepadaku. Kini yang ada dipikiranku sekarang adalah bagaimana caranya aku bisa menjadi orang kaya agar aku bisa menjadi orang tua asuh bagi anak-anak miskin di daerah sekitarku dan bisa menyekolahkan mereka semua agar tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah hanya gara-gara biaya. Ya Allah kabulkanlah do’aku dan terus bimbinglah aku ke jalan yang lurus. Amin.
Selasa, 02 Februari 2010
TUKANG BECAK NAIK HAJI
TUKANG BECAK NAIK HAJI
Siapa yang tidak kenal dengan Pak Muslim. Semua orang di kampung Kebon Kopi kenal dengan Pak Muslim. Dia terkenal sebagai seorang tukang becak yang sealu murah senyum. Sudah puluhan tahun dia menjalani profesinya itu. Tidak seperti kebanyakan tukang becak yang lain, Pak Muslim tidak pernah sekalipun meninggalkan shalat wajib, ia pun gemar melaksanakan shalat Tahajud dan shalat Dhuha.
Pak Muslim memiliki
***
Pak Muslim pulang dari masjid usai shalat subuh bersama-sama dengan istrinya, berjalan beriringan seperti biasa. Kelima anak-anaknya sudah mendahului mereka pulang ke rumah.
“Bu, Bapak tuh sudah semakin tua.”
“Iya. Ibu tahu pak. Ibu juga sudah semakin tua. Anak-anak juga sudah pada besar.”
“Bapak senang anak-anak kita soleh dan solehah.”
“Ya, Pak.”
“Sejak dulu Bapak pendam saja impian ini, Bu.”
“Apa itu, Pak?”
“Bapak ingin sekali naik haji bu.”
Mendengar omongan suaminya, Bu Muslim hanya tertawa kecil. Bukan tertawa untuk melecehkan suaminya, tetapi tertawa karena itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi, pikirnya. Hampir semua orang Islam ingin sekali naik haji, namun hanya beberapa saja yang beruntung, karena untuk sampai ke tanah Mekkah dari
“Bapak serius, Bu.”
“Ibu, tahu Pak. Tapi…”
“Bapak akan menabung dari sekarang. Sekarang keempat anak-anak kita bisa bersekolah dengan gratis, kita hanya memikirkan biaya anak sulung kita saja. Jadi Bapak putuskan mulai sekarang Bapak akan menabung untuk naik haji.”
Ibu menarik napas panjang, “Sejak dulu pun kita sudah menabung, Pak. Tapi tabungan kita tidak pernah penuh, sebab selalu saja ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, akhirnya tabungan pun terpakai terus.”
“Bapak harus pakai cara lain, Bu.”
“Apa Bapak mau menabung di bank? Jangan Pak, nanti malah habis buat biaya administrasi karena saking kecilnya tabungan kita.”
“Bukan di bank, Bu.”
“Trus dimana, Pak.”
Pak Muslim hanya tersenyum kecil tetapi pasti. Ya, Pak Muslim sudah membulatkan tekadnya. Sekarang hari Jum’at, ia akan melaksanakan niatnya sekarang juga.
“Kok, malah senyum-senyum, Pak. Memangnya dimana Bapak mau menabung?”
“Ibu tenang saja. Nanti juga Bapak akan cerita.”
“Cerita sekarang saja, Pak.bikin ibu penasaran saja.”
“Nanti saja, Bu. Nanti juga ibu tahu sendiri.”
“Ya, sudah. Bapak memang sukannya bikin ibu penasaran. Yang penting uang tabungannya jangan hilang ya, Pak.”
“Jangan khawatir, Bu. Bapak jamin uang tabungannya tidak akan pernah hilang.”
“Bapak yakin sekali toh, Pak. Biasanya Bapak selalu memakai kata Insya Allah, begitu, Pak.”
“Bapak yakin karena Bapak menabung langsung kepada Allah. Ups…” Bapak menupup mulutnya, “Wah keceplosan.”
“Apa maksudnya toh Pak?” ibu malah mengerutkan keningnya.
“Kita lihat saja nanti, Bu.”
Bu Muslim tidak menanyakan lebih jauh tentang rencana suaminya itu karena mereka sudah tiba di rumah. Yang Bu Muslim pikirkan sekarang adalah hari ini Bu Muslim akan memasak sayur asam, ikan asin dan sambal terasi. Makanan sederhana yang tak asing lagi bagi keluarga Pak Muslim.
***
Pak Muslim dengan langkah pasti mendorong becaknya keluar halaman rumah sebelum akhirnya mengayuh becak tersebut. Ia harus yakin dan optimis bahwa rencananya pasti akan berhasil. Yakinlah pada Allah. Karena Allah itu sebagaimana prasangka hambanya. Kalau kita yakin bahwa Allah akan mengabulkan do’a kita maka pasti Insya Allah, Allah akan mengabulkannya. Kata-kata Ustadz Amin lah yang menguatkan hatinya akan rencananya tersebut. Dan Pak Muslim akan menabung agar bisa naik haji setiap hari Jum’at. Tak seorang pun yang tahu dimana Pak Muslim menabungkannya.
***
“Loh kok, tidak mau dibayar. Bapak ini bagaimana sih. Buat apa narik becak kalau tidak mau dibayar.”
Dengan tetap tersenyum Pak Muslim berkata, “Ini untuk tabungan saya naik haji.”
“Ya, sudah.” Jawab penumpangnya sambil melengos pergi. “Aneh-aneh saja bapak itu, sudah gila kali. Hari gini,gitu loh. Masih ada orang yang kayak gitu.” Batinnya.
Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Kini hampir semua orang di kampung Kebon Kopi tahu dengan kebiasaan Pak Muslim yang selalu menarik becak secara gratis setiap hari Jum’at. Banyak sekali orang-orang yang bersimpati pada Pak Muslim, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memikirkan untuk menolong Pak Muslim, lah mereka sendiri saja pengen naik haji nggak kesampaian, yang ada tiap bulan harus pusing mikirin bayar kreditan ataupun utang di bank. Fiuh… hidup lagi susah. Malah banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup ataupun hanya untuk menjaga gengsi. Tapi yang dilakukan Pak Muslim justru tidak pernah terpikirkan oleh siapapun diantara mereka.
Ada yang kasihan pada Pak Muslim, ada pula yang senang karena setiap hari Jum’at mereka dapat naik becak Pak Muslim secara gratis, terutama anak-anak sekolah yang dengan senang hati naik becak Pak Muslim, padahal kalau hari-hari biasa mereka jarang sekali naik becak. Tapi Pak Muslim dengan senang hati mengayuh becak tersebut walaupun tanpa bayaran sepeser pun setiap hari Jum’at. Ia yakin semakin banyak mengayuh maka semakin banyak tabungannya. Dan setiap hari Jum’at banyak sekali penumpangnya tidak sebanyak pada hari-hari biasa. Tetapi hal tersebut justru membuatnya bertambah senang.
Lain dengan Bu Muslim yang justru tidak senang dengan kebiasaan suaminya itu.
“Coba dipikir-pikir lagi, Pak. Masak menabung untuk naik haji dengan cara seperti itu.”
“Loh, ibu itu gimana. Justru Bapak sudah memikirkannya masak-masak, Bu.”
“Masak iya sih, Pak.”
“Ibu, ini.” Pak Muslim geleng-geleng kepala, “Kita harus yakin kepada Allah, Bu. Karena Allah itu akan seperti prasangka hambanya. Kalau kita berprasangka baik kepada Allah maka Allah akan seperti itu, tapi kalau sebaliknya maka yang terjadipun akan sebaliknya, Bu.”
“Ya sudah, kalau begitu, Pak. Ibu do’a
Bukan Cuma Bu Muslim, anak-anak Pak Muslim pun tidak setuju dengan apa yang Pak Muslim lakukan. Apa lagi yang sulung, dia malu dengan teman-temannya yang sudah memandang bapaknya layaknya orang edan. Fiuh… jaman sekarang kalau orang baik-baik dibilang edan. Orang edan beneran (yang doyan makan uang rakyat) lalu disebut apa?
***
Entah sudah berapa tahu Pak Muslim melakukan kebiasaannya itu. Bu Muslim sendiri bahkan sudah melupakan kebiasaan suaminya itu. Orang lain pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kebiasaan Pak Muslim itu. Dan Pak Muslim tetap yakin dengan caranya itu. Kalau pun ada penumpang yang memaksa untuk membayar Pak Muslim pasti akan menolaknya setiap hari Jum’at, apapun yang terjadi.
Seperti hari Jum’at kali ini ada seorang bapak yang memaksa untuk membayar Pak Muslim setelah ia menaiki becaknya.
“Loh, kenapa tidak mau dibayar, Pak.”
“Ini untuk tabungan saya naik haji, Pak.”
“Memang bapak sudah daftar?”
“Belum.”
“Ya, sudah kalau begitu. Besok temui saya disini, di depan hotel ini, jam tujuh pagi.”
“Baik, Pak.”
Tidak ada yang menyangka bahwa penumpang Pak Muslim kali ini adalah seorang yang kaya raya yang kebetulan sedang singgah di daerah itu untuk urusan bisnis dan sebenarnya orang tersebut tidak pernah naik becak sekalipun dan ketika urusan bisnisnya selesai ia ingin merasakan bagaimana rasanya naik becak, dan terkejut sekali bahwa si tukang becak tersebut justru tidak mau dibayar. Dan lebih terkejut lagi adalah dengan alasan si tukang becak itu. Maka bapak tersebut memutuskan untuk membiayai semua biaya naik haji untuk si tukan becak tersebut, yang tidak lain adalah Pak Muslim. Subhanallah…
***
Bu Muslim menangis tersedu-sedu, anak-anaknya pun terlihat sedih, bukan sedih karena mereka benar-benar sedih, namun itu semua adalah ungkapan keharuan atas Pak Muslim. Bukan hanya mereka, orang-orang yang mengetahui akan kebiasaan Pak Muslim pun merasa sangat terharu, terutama orang-orang yang selama ini mencemooh kebiasaan Pak Muslim tersebut. Banyak pula yang merasa tidak percaya dengan kenyataan ini. Namun mereka kini dapat melihat bahwa sebentar lagi Pak Muslim akan naik haji. Dan mereka tahu bahwa selama ini Pak Muslim tidak menabung dengan sia-sia. Kini tabungan Pak Muslim sudah cukup untuk bisa ke tanah suci.
Diangkat dari kisah nyata yang pernah saya dengar
Senin, 01 Februari 2010
KISAH INSPIRATIF DAN MOTIVASI
Rasulullah SAW dan seorang pengemis..
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya".
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW praktis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari ! sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan istri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu,
"Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?".
Aisyah RA menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja".
Apakah Itu?", tanya Abubakar RA.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi keujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu ?".
Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa."
"Bukan! Engkau bukan ora! ng yang biasa mendatangiku", bantah si pengemis buta itu.
"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku", pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
"Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu.
Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....
"Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu ia menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau?
Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq.
Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya.